UN-SNMPTN Integral Memicu Kecurangan

Sabtu, 14 November 2009

UJIAN NASIONAL
SEMARANG - Sekretaris PGRI Provinsi Jawa Tengah, Muhdi MH, menilai pengintegrasian ujian nasional (UN) dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) tak memperbaiki, justru memperburuk dunia pendidikan. Itu terutama berkait dengan pelaksanaan ujian yang selama ini diwarnai banyak kecurangan.

”Besar kemungkinan penggabungan itu memicu lebih banyak kecurangan,” kata dia.
READ MORE - UN-SNMPTN Integral Memicu Kecurangan

Sertifikasi Guru Tidak Tepat Sasaran

Kamis, 12 November 2009

SERTIFIKASI TDK TEPATSOLO, KOMPAS.com - Sertifikasi guru yang bertujuan meningkatkan kompetensi sekaligus kesejahteraan guru ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Guru yang telah lolos sertifikasi ternyata tidak menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan.
”Dari kajian yang dilakukan, ternyata motivasi para guru mengikuti sertifikasi umumnya terkait aspek finansial, yaitu segera mendapat tunjangan profesi,” kata Prof Dr Baedhowi, MSi dalam pidato pengukuhan guru besar Manajemen Sumber Daya Manusia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/11). Baedhowi adalah guru besar ke-188 di UNS Solo.
Dalam Rapat Senat Terbuka UNS yang dipimpin Rektor UNS Dr dr Much Syamsulhadi, SpKJ (K), Baedhowi—yang kini menjabat Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional—membawakan pidato berjudul ”Tantangan Profesionalisme Guru pada Era Sertifikasi”.
Sertifikasi guru yang merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu sekaligus kesejahteraan guru sasarannya bisa menjangkau 2,7 juta guru. Namun, hingga saat ini baru sekitar 500.000 guru yang lolos sertifikasi dan mendapat tunjangan profesi sebesar satu kali gaji.
Sebuah kajian untuk mengetahui kompetensi guru pascasertifikasi, yang dilakukan Baedhowi dan Hartoyo (tahun 2009), menunjukkan motivasi guru untuk segera ikut kompetensi bukanlah semata-mata untuk mengetahui tingkat kompetensi mereka, tetapi yang lebih menonjol adalah motivasi finansial.
Alasan finansial
Motivasi yang sama ditemukan Direktorat Jenderal PMPTK Depdiknas ketika melakukan kajian serupa di Provinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat tahun 2008. Kajian ini melibatkan responden 2.600 guru yang belum mengikuti sertifikasi dan 2.600 guru yang telah mengikuti sertifikasi.
”Meskipun alasan mereka bervariasi, secara umum motivasi mereka mengikuti sertifikasi ialah finansial,” kata Baedhowi.
Alasan para guru mengikuti sertifikasi, antara lain, agar mendapat tunjangan profesi, segera mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tunjangan untuk biaya kuliah, biaya pendidikan anak, merenovasi rumah, dan membayar utang.
”Tujuan utama sertifikasi untuk mewujudkan kompetensi guru tampaknya masih disikapi guru sebatas wacana,” ujarnya.
Kenyataan menunjukkan bahwa sertifikasi saja tidaklah cukup sebagai upaya mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru. Meski telah dinyatakan lulus sertifikasi dan telah menerima tunjangan profesi, bukan berarti guru telah memiliki kompetensi yang dipersyaratkan undang-undang.
”Ini bukan masalah, melainkan tantangan bagi guru,” kata Baedhowi.
Untuk mewujudkan guru yang benar-benar profesional, pascasertifikasi perlu ada upaya sistematis, sinergis, dan berkesinambungan yang menjamin guru tetap profesional.
Ditanya pers tentang banyaknya guru yang membeli gelar atau ijazah sarjana tanpa melalui pendidikan di perguruan tinggi yang terakreditasi, Baedhowi menyatakan prihatin. Ia menegaskan, ijazah yang diragukan atau tidak jelas akan ditertibkan dan tidak bisa masuk dalam penilaian untuk sertifikasi. (SON)
(Dikutip dari Kompas Jum’at, 13 Npember 2009)
READ MORE - Sertifikasi Guru Tidak Tepat Sasaran

7 Karakter Sekolah Sukses

DATA SISWAApakah Anda Yakin Mampu Membangun Iklim Sekolah yang Positif?
Sesungguhnya apa yang disebut dengan sekolah sukses? Salah satu ukurannya adalah pencapaian nilai yang tinggi saat kelulusan.. Mereka mencapai kemampuan membaca, menulis, berhitung, memecahkan masalah, berpikir kreatif dan analitis, dan yang terpenting: mereka belajar untuk belajar!

Ukuran selanjutnya, adalah pencapaian yang melebihi target sekolah yang setara. Di AS, selama tahun 1980 dan 1990-an, banyak penelitian mengidentifikasi karakteristik sekolah sukses (atau efektif). Deskripsinya dapat Anda cermati sebagai berikut:

1. Kepemimpinan yang kuat. Sekolah sukses memiliki pemimpin yang menghargai pendidikan dan melihat diri sendiri sebagai pemimpin pendidikan, bukan sebagai manajer atau birokrat. Dia memantau kinerja setiap orang di sekolah, Guru-staf-murid dan dirinya sendiri. Pemimpin seperti ini memiliki visi sekolah sebagai lingkungan belajar dan senantiasa membuat langkah penting untuk kemajuan.

2. Pengharapan yang tinggi. Para Guru di sekolah sukses memiliki pengharapan yang tinggi pada siswa. Guru-guru ini sangat yakin, bahwa semua siswanya dapat belajar, dan mereka memberitahukan hal ini melalui pengharapan yang realistis dan tinggi.

3. Menekankan pada kemampuan dasar. Selain pencapaian akademis, tentu saja konsep diri dan nilai nilai kehidupan adalah kemampuan dasar yang harus dicapai oleh semua siswa.

4. Lingkungan sekolah yang teratur. Lingkungan yang menyenangkan dan aman sebagai tempat yang kondusif untuk mengekspresikan diri. Guru memiliki kedisiplinan mengajar.

5. Evaluasi proses belajar yang sistemik, sering dan ajeg. Proses belajar siswa selalu dipantau. Ketika muncul kesulitan, segera dicari jalan keluarnya.

6. Memiliki tujuan. Semua elemen sekolah merasa dituntun oleh visi kesuksesan yang jelas sebagai tujuan yang akan dicapai.

7. Pertemanan dan rasa memiliki komunitas. Semua pihak yang ada di sekolah merasakan gairah kesuksesan. Mereka berdedikasi menciptakan lingkungan bukan hanya terbatas pada kemajuan siswa, melainkan menciptakan pertumbuhan dan perkembangan profesionalisme pribadi.

Hasil penelitian ini memang dilakukan bukan di Indonesia. Namun kesuksesan dan efektifitas berlaku universal, mestinya poin di atas segera dapat dirinci menjadi program sekolah yang terkonsep. Coba lakukan rapat terbatas untuk menyesuaikan dengan iklim di sekolah Anda. Kemudian pampangkan secara jelas sebagai publisitas sekolah yang keren.
Kini Anda menjadi yakin, bahwa sekolah yang Anda kembangkan sedang membentuk karakter sekolah yang sukses. TG

Sumber: Menjadi Seorang Guru, Forrest W Parka, Indeks, edisi ke 7.
READ MORE - 7 Karakter Sekolah Sukses

Mendiknas: Tak Perlu Ada Pro-Kontra

Senin, 09 November 2009

MENDIKNASJAKARTA-Menanggapi persoalan yang terus berkembang seputar penggabungan UN dan SNMPTN, Mendiknas Mohammad Nuh menyatakan tidak perlu ada pro kontra.

Alasannya, hakikat penggabungan itu adalah integrasi sistem pendidikan di Indonesia.

“Tema besar pendidikan adalah integrasi sistem dari dasar-menengah dengan sistem pendidikan tinggi. Syarat integrasi itu adalah pengakuan dari capaian pendidikan sebelumnya,” kata Nuh usai mengikuti pelantikan tiga kepala staf angkatan di Istana Negara, kemarin.

Dia mengatakan, masih belum sempurnanya pelaksanaan UN itulah yang akan disempurnakan. Paling tidak, ujarnya, secara konsep sudah tidak ada masalah.
“Sedangkan pelaksanaannya, menunggu perbaikan yang sudah kita laksanakan. Sehingga, penggabungan UN-SNMPTN tidak perlu menjadi pro dan kontra.

Sebab, penggabungan itu merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional dan temanya bukan hapus-menghapus UN,” tuturnya.
Mendiknas menambahkan, penggabungan itu merupakan konsekuensi logis dari sistem yang terus diperbaiki.

“Tidak usah di-pro-kontra-kan, karena kalau sudah terintegrasi, otomatis hasil UN bisa untuk masuk perguruan tinggi,” tandasnya.

Dia menegaskan, bila UN 2010 sudah berjalan dengan baik dan tidak ada persoalan teknis, maka pada 2011 integrasi UN-SNMPTN bisa dilakukan.
Yang jelas, lanjutnya, semua itu dilakukan secara bertahap. “Insya Allah tidak ada yang kontra,” tukasnya. (H28-45)
(Dikutip dari Suara Merdeka, Selasa, 10 Nopember 2009)
READ MORE - Mendiknas: Tak Perlu Ada Pro-Kontra

Untuk bangkitkan minat baca, Perahu antarpulau Karimunjawa agar dilengkapi buku bacaan

Sabtu, 07 November 2009

BACA BUKUUpaya untuk menumbuhkan budaya baca di Kabupaten Jepara terus dilakukan. Di antaranya adalah meningkatkan kualitas dan fasilitas perpustakaan di sekolah dasar. Kondisi perpustakaan yang masih kurang bagus dalam kualitas dan fasilitas, serta pengelolaannya membuat masyarakat tidak tertarik untuk membaca. Di tingkat SD, anak-anak lebih suka bermain daripada membaca di perpustakaan sekolahnya.
READ MORE - Untuk bangkitkan minat baca, Perahu antarpulau Karimunjawa agar dilengkapi buku bacaan

SNMPTN Dihapus, Ujian Nasional Harus Dibenahi Dulu

Jumat, 06 November 2009

MENDIKNASJAKARTA, KOMPAS. com - Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri diharapkan bisa dihapus pada tahun 2012 karena seleksi masuk perguruan tinggi negeri diintegrasikan dengan ujian nasional. Namun, sebelum pola ini diterapkan, pelaksanaan ujian nasional harus dibenahi terlebih dahulu
Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Jumat (6/11), saat menyampaikan Program 100 Hari Menteri Pendidikan Nasional mengatakan, polemik masalah ujian nasional (UN) ini tak akan pernah selesai. Selalu ada pro dan kontra.
”Daripada membahas perbedaan pandangan, akan jauh lebih baik jika berkonsentrasi pada upaya membuat UN lebih baik dan dapat dipercaya,” ujarnya.
Untuk menjamin hasil UN dapat menjadi bahan penilaian ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN), Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia akan terlibat aktif sejak awal penyusunan soal, pengawasan, hingga evaluasi pelaksanaan UN. Kehadiran PTN pada dasarnya ikut melengkapi dan menyempurnakan proses UN sehingga tidak ada lagi kecurangan-kecurangan. ”Jika hasil UN bisa dipercaya, tidak ada alasan bagi PTN untuk menolak integrasi ini,” kata Nuh.
Tidak langsung
Jika hasil UN dapat dipercaya, kemungkinan besar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan dihapuskan pada tahun 2012. Namun, Ketua Umum SNMPTN 2009 Haris Supratno menegaskan bahwa SNMPTN tidak bisa langsung hilang, tetapi akan dilakukan bertahap.
”Benahi dulu pelaksanaan UN. Harapannya 2010 hasil UN, khususnya SMA, bisa dipercaya. Jika sudah bisa dipercaya, tentu tidak ada alasan untuk menunggu sampai tahun 2012. Lebih cepat lebih baik,” kata Haris, yang juga rektor Universitas Negeri Surabaya itu.
Wacana integrasi sistem pendidikan ini sudah disosialisasikan sejak 2008 dan kalangan rektor PTN telah sepakat melaksanakan ”bebas SNMPTN 2012”. Untuk mencapai target itu, rektor PTN di seluruh Indonesia akan mengawasi titik-titik rawan kecurangan, seperti pencetakan hingga distribusi soal. Selain itu, para rektor pun akan membantu guru membuat soal-soal UN. (LUK)
(Dikutip dari Kompas, hari Sabtu, 7 Nopember 2009)
READ MORE - SNMPTN Dihapus, Ujian Nasional Harus Dibenahi Dulu

Integrasi UN dan SNMPTN Menuju "Titik Terang"

INTEGRASI UN DAN SNMPTNJAKARTA, KOMPAS.com - Ide dijadikannya hasil UN sebagai salah satu penilaian SNMPTN kiranya semakin "terang", hanya saja masih membutuhkan upaya serius pemerintah dan berbagai pihak terkait, terutama soal kredibilitasnya.
Wacana tersebut dikemukakan oleh Ketua Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Haris Supratno di sela paparan program 100 hari kerja Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), di Jakarta, Jumat (6/11), oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh.
READ MORE - Integrasi UN dan SNMPTN Menuju "Titik Terang"

MUJAHADAH

MUJAHADAHMujahadah adalah salah satu sarana atau cara kita untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapaun kegiatan apa yang dapat kita lakukan dalam mujahadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ini antara lain memperbanyak sholat malam, dzikir dengan berbagai macam bacaan kalimat muadhomah, dzikir kepada Allah dengan bertafakur adanya alam semesta ini, namun tidak kalah pentingnya menahan semua hawa nafsu yang ada pada diri kita.
READ MORE - MUJAHADAH

Pendidikan Nasional Masih Terfokus pada Materi

Senin, 02 November 2009

PEND TERFOKUS PADA MATERIJAKARTA, KOMPAS.com - Mendidik anak harus berdasarkan potensinya, karena seorang anak memiliki struktur dan fungsi otak sebagai organ yang memiliki kebutuhan sendiri.
Orang tua, guru, lembaga sekolah, dan masyarakat luas perlu menyadari, bahwa mendidik anak bukan semata berdasar keinginan "mereka". Alhasil, target dan tujuan pendidikan yang dilaluinya pun bukan seolah-olah milik "mereka".
READ MORE - Pendidikan Nasional Masih Terfokus pada Materi